Jumat, 01 Juli 2011

Jejak


Jejak inisiatif para alumni SMAN 37 angkatan 1991 merajut kembali persahabatan mereka. (klik foto utk melihat film)


Filmmakers: Erfan A. Setiawan, Gamal Ferdhi, Lyndon A.P Sakul, Imanuel Sianipar, Muhtad Wassil, Yudha Arifianto, Boy Rinaldi.

p 2008
c Iluni 3791

Rabu, 15 Juni 2011

"Adik Kalian Masih Banyak Yang Susah"



“Kami mendoakan agar rizki para alumni berlimpah,” kata Kepala Sekolah SMAN 37, Drs. Soegiharto. Tampak ketulusan saat menyampaikan itu. Dari parasnya terbersit harapan agar  para alumni tak ragu menyisihkan sedikit rizki untuk murid-murid SMA 37 yang tak mampu membayar sekolah.

Kamis, 24 Februari 2011

Usia Tak Bisa Dusta

Juara Putri & Putra (Foto: Noel & Yudha)

Jakarta, Kanal 37
Tim basket putra gabungan alumni 1990 dan 1991 (3790 & 91) kalah tipis dari tim baket gabungan alumni 2005 -2010 (3705 -10). Tim 3790 & 91 ditaklukan Tim 3705-10 dengan skor 9 - 12. Sementara tim putri gabungan alumni dibantai tim putri SMA 6 - 20.

Jumat, 18 Februari 2011

ONE DAY CHAMPIONSHIP 2011

ONE DAY CHAMPIONSHIP II
Kompetisi Bola Basket antar Alumni SMAN 37
Sabtu,19 Februari 2011, 08.30 WIB
di SMAN 37 Jakarta
Basket Competition, Dance, Cheerleaders & Live Music

Selasa, 18 Januari 2011

Namanye Juga Napak Tilas...



Sinopsis:
Upaya seorang cowok lebay merekonstruksi kenangan masa SMA. Mengungkap kebiasaan-kebiasaan "menyimpang" para murid, hingga perubahan di sekolahnya. Sebuah nostalgia 17 tahun yang dalam. Meski tanpa romansa, baginya masa SMA tak mungkin dilupa.

Filmmakers (in alphabetical order): Erfan Agus Setiawan, Lyndon Aristotle Piere S, Gamal Ferdhi, Rona Moranta, Sunu Prasetya, Boy Rinaldi, Imam Setya Nugraha, Immanuel Sianipar, Muhtad Wassil.

Approx. 12:33

(P) Alumni SMAN 37 angkatan 1991, 2008

Senin, 17 Januari 2011

Pada Sebuah Sudut

Musim Penghujan 1988
Dua pohon palem itu seolah menjadi bingkai. Celah diantara keduanya membuat pandanganku lebih terarah jauh ke depan. Bentang rel kereta, genteng-genteng merah kusam berbaris asimetris, kusir-kusir becak yang menunggu rejeki dari kayuhannya di pinggiran jalan, menjadi variasi bagi mataku.

Selasa, 21 September 2010

Ketika Cinta Hadir Kembali

Memasuki usia 40 orang barat bilang, life begins at 40. Jujur, saya tidak sepaham dengan pameo tersebut. Kedewasaan atau kematangan diri seseorang tidak hanya diukur dari usianya saja. Pengalaman hidup, keimanan dan ilmu pengetahuan, menurut saya lebih tepat untuk membantu terbentuknya kepribadian seseorang menjadi matang dan dewasa, baik dari cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam menghadapi serta memecahkan segala permasalahan hidup.

Saya tidak mengerti ketika seseorang sedang mengalami krisis usia menjelang paruh baya, konon katanya secara psikologis mereka mengalami perubahan, cenderung kekanakan. Benar atau salah, berpulang kepada diri kita masing-masing. Tergantung dari sisi mana kita akan menilainya.

Ambil contoh yang sedang tren terjadi dikalangan usia saya, jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan orang lain!! Saya tidak menyalahkan mereka yang sedang jatuh cinta, sayapun pernah merasakan nikmatnya jatuh cinta...berjuta rasanya!! Kalau boleh dibilang, kita seperti kembali ke era tahun 80-90an ketika saat remaja dulu. Kita pun sejenak lupa, bahwa usia sudah tak lagi muda. Sikap, tingkah laku, bahasa tubuh serta cara mengapresiasikan, seharusnya tidak sama lagi seperti masa 20an tahun lampau. Paling tidak itu yg saya pahami secara pribadi. Tapi ternyata pemikiran saya tidak berlaku untuk sebagian orang, jatuh cinta yang seharusnya menjadikan segalanya terasa lebih indah ternyata bisa menjadi sangat menyebalkan.  Penyebabnya bisa bermacam-macam. Kadang sampai menyebabkan pertemanan yang sudah terjalin sekian lama bisa runtuh karena saling curiga. Hanya karena jatuh cinta pun, logika berpikir yg tadinya normal mendadak jadi abnormal. Mana teman mana lawan semuanya bluuur...mendadak berkabut dan tidak terlihat. Menyedihkan sekali.  Jatuh cinta yang seharusnya membuat kita hore-hore dan memompa semangat hidup, tiba-tiba malah membuat repot kita semua, mengakibatkan pertemanan hancur, saling bohong satu sama lain, saling curiga...dan lain-lain. Pendek kata seperti anak-anak yang sedang main petak umpet. Takut ketahuan.

Siapa yang tidak melayang ketika sang idola menyatakan kekagumannya terhadap kita?? Apalagi pada saat yg bersamaan ternyata cinta kedua itu tidak bertepuk sebelah tangan. Rasanya hore sekali. Tak pernah ada perhatian yg luput disetiap detik jarum jam, perhatian tumpah ruah setiap saat dari pasangan yang sedang dimabuk asmara untuk yg kedua kalinya. Menyenangkan sekali bukan?? Apalagi disaat usia kita sekarang, dimana ada yg merasa diri sudah mapan baik dalam karier maupun materi yang otomatis membuat kepercayaan diri lebih meningkat dibanding ketika masa remaja dulu.

Sekali lagi tidak ada seorangpun yang bisa menahan rasa cinta yang mendadak hadir. Hanya diri kita sendirilah yang bisa memutuskannya, mau diteruskan atau kita tinggalkan. Semua berpulang pada kebijaksanaan pemikiran kita masing-masing. Mana yang terbaik dan harus dipilih untuk kelangsungan hidup kita. Kalaupun mau tetap dilanjutkan, kita harus siap dengan segala tanggung jawab dan risiko-risiko terburuk yang akan terjadi. Kematangan berpikir dalam mengambil keputusan sangat menentukan. Curiga atau saling menyalahkan teman atau pihak ketiga, ketika angan tak sampai, adalah tiada berguna. Karena sesungguhnya si Cinta Kedua itu toh sesungguhnya bukan milik kita...:D.

Saya tidak tahu dalam hal ini, apakah saya yg naif dan bodoh atau mereka yg sedang jatuh cinta sudah mabuk kepayang sehingga tidak bisa berpikir jernih lagi?? Kalaupun ini terjadi pada diri kita masing-masing, sikapilah dengan cara yang arif dan dewasa dalam arti tidak menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain.

Jatuh cinta itu indah
Jangan kau takut jatuh cinta


Saya makin kagum dengan Sang Pencipta, betapa luar biasanya Dia, bisa membuat rasa hati yang beraneka dan indah untuk manusia ciptaanNya. Terima kasih Tuhan, masih Kau izinkan kami untuk bisa dan merasakan jatuh cinta lagi. Saya hanya mampu berharap, bahwa dengan cinta semuanya bisa menjadi damai...Akhirnya saya ucapkan: Selamat bagi kalian yang sedang jatuh cinta!! Dilarang menghancurkan pertemanan gara-gara jatuh cinta, karena pertemanan dan persahabatan pun sedari awal dibangun dengan rasa cinta kita semua...:)

*written by Meina Suzanna, 21 Sept 2010

Senin, 02 Agustus 2010

Merangkai Nasib Aktuil dari Konser Deep Purple


Oleh Gamal Ferdhi*
“Selamat malam?” pekik David Coverdale dalam logat Indonesia patah-patah. Salamnya disambut gemuruh puluhan ribu penonton. Coverdale langsung menimpali, “apakabar?” Penonton kembali menyambut antusias.

Diawali gebukan cymbal Ian Paice, disusul raungan melody Tommy Bolin, cabikan bass Glen Hughes dan erangan keyboard John Lord, serta lengkingan vocal Coverdale, Deep Purple mulai membakar publik Jakarta dengan "Burn".

Penonton semakin menggila. Kepolisian terus waspada di sekeliling pangung. Herder dan Doberman para hamba wet itu dikerahkan. Mereka mengantisipasi ekstase penonton yang sebagian besar berambut gondrong bercelana cutbray.

Demikian suasana Konser Deep Purple di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 4 dan 5 Desember 1975. Sekitar 150 ribu penonton memadati istana olahraga itu dalam konser dua hari. Keriuhannya menjadi buah bibir hingga berbulan-bulan.

Jelas saya tidak menonton langsung pagelaran akbar itu. Umur saya masih 3 tahun. Namun hingga beranjak belia, beragam mitos dari konser supergroup asal Inggris itu masih terdengar. Seorang teman pernah berkisah, “Jakarta sampai mati lampu untuk memasok kebutuhan listrik konser Deep Purple saat itu.” Padahal umurnya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari saya.

Mitos kerap lahir dari keterpesonaan. Ketika sebuah realitas tak dapat dijangkau maka dibangun kisah di luar nalar. Jadi wajar banyak mitos yang lahir dari konser Deep Purple ini. Perhelatan 35 tahun lalu itu memang dahsyat. Pesonanya saya saksikan lewat film Untuk Kaum Muda (UKM - For the Youngsters). Film besutan sutradara Erfan Agus Setiawan, ini mengupas sejarah pasang surut majalah musik paling fenomenal di tahun 70 an, Aktuil. Majalah ini yang berjasa mendatangkan Deep Purple dulu.

Untuk Kaum Muda diganjar Penghargaan Khusus Dewan Juri Dokumenter FFI 2004. Meski maksud awal film itu untuk memenuhi tugas akhir kuliah Erfan di Institute Kesenian Jakarta. Pembuatannya memakan waktu dua tahun. Sementara untuk syuting narasumber hanya sepuluh hari. “Paling pusing nyari footage Deep Purple,” ungkap pria kelahiran 30 Agustus ini.

Konon footage grup musik ini pernah diputar di IKJ, namun tak ada yang paham keberadaanya. Erfan memburu dokumen sejarah itu ke TVRI dan Arsip Nasional. Semua nihil. Ia kembali mencari di IKJ dan membongkar lemari film di perpustakaan kampus. Ketemu.

Kesulitan lain menghadang. Ijin hak cipta harus diurus. Dokumen itu karya Sinema 8, rumah produksi yang dibentuk oleh delapan mahasiswa IKJ. Keberadaan mereka entah dimana. Setelah payah mencari personil Sinema 8, ijin pun didapat.

Selanjutnya, mengoversi film seluloid itu ke digital. Karena semata wayang, konversi dokumen itu harus dikawal dekan fakultas. Pita film tua itu sempat putus dua kali saat proses ubah format. Hasilnya, dari 30 menit panjang dokumen, Erfan menyisipkan 10 menit aksi Deep Purple dalam Untuk Kaum Muda .

Erfan yang dibantu Arif Basuki, karib sekaligus tetangganya, menampilkan kisah dari tiga sisi. Pembaca, awak redaksi Aktuil dan musisi Indonesia 70 an. Film ini dengan apik menyajikan gestur dan emosi para narasumbernya. Juga kutipan yang saling menguatkan, kadang menafikan. Simak pendapat para narasumber tentang Aktuil.

“Ini buku suci,” kata Andy Julias, musisi rock progresif.

“Barometer majalah musik pada tahun-tahun itu adalah aktuil,” ungkap Donny Fatah, bassis God Bless.

Aktuil yang lahir tahun 1967, juga menjadi media perlawanan anak muda terhadap sistem yang mapan. Tiras Aktuil di awal 70 an bisa mencapai 120.000 eksemplar. Selain menyuguhkan artikel musik rock, kepada anak muda diperkenalkan, opera, teater dan sastra.

Saat Remy Sylado berada dalam jajaran redaksi Aktuil, ia menggagas gerakan puisi mbeling. Seperti ingin menggugat budaya hipokrit, film ini menyuguhkan penjelasan Remy atas puisinya yang berjudul Pesan Seorang Ibu Kepada Putranya. Puisi itu hanya berisi tiga kata: “Jangan Bilang Kontol”.

Menurut Remy kata kontol itu tidak porno. Apakah kata itu harus diganti dengan kata kemaluan? “Saya rasa, justru laki-laki yang tidak punya kontol yang harus malu,” jelas sastrawan dengan nama asli Jubal Anak Perang Iman Tambayong ini.

Selain rubrik sastra asuhan Remy, yang membuat aktuil digandrungi anak muda adalah reportase Denny Sabri yang bermukim di Eropa. Sabri melaporkan konser-konser musisi mancanegara di sana.

Ia begitu dekat dengan narasumbernya, terutama Deep Purple. Ketika Deep Purple ikut arus British invasion -arus para musisi Inggris merajai industri musik Amerika, Sabri yang masih kuliah di Jerman turut hijrah ke Negri Paman Sam.

Ketika akan konser ke Jepang dan Australia, Sabri menawarkan Deep Purple mampir manggung di Indonesia. “Mereka mau,” kata Sabri yang dalam film UKM terlihat tersengal-sengal mengisahkan masa lalunya.

Sabri didera penyakit kronis saat Erfan mewawancarainya. Meski demikian, ia begitu antusias. Bahkan Sabri menyempatkan datang ke Hotel Sahid untuk menceritakan tragedi kematian Patrick Collins di hotel itu. Patrick Collins adalah crew Deep Purple. “Patsy (panggilan akrab Patrick) jatuh dari lantai 8,” ungkap Sabri di depan lift tempat kejadian.

Denny Sabri tutup usia pada 29 November 2003. “Enam bulan setelah gue wawancarain, tiga bulan setelah film kelar,” kenang Erfan.

Dalam kacamata Erfan, Sabri layaknya tokoh William Miller dalam film Almost Famous karya Cameron Crowe. Seperti Miller yang ngintil grup musik Stillwater, Sabri nempel pada Deep Purple. Kedekatan Sabri nampak saat konferensi pers di Hotel Sahid menjelang konser tahun 1975. Glen Hughes merangkul Sabri dengan hangat.

Usai kehadiran Deep Purple, adalah masa sulit bagi Aktuil. Remy dan Sabri hengkang dari majalah itu. Tirasnya terus merosot. Erfan memvisualkan bahwa mengenang kejayaan memang selalu menyakitkan. Seperti dirasakan Odang Danaatmaja di akhir film. Odang yang ikut membesarkan Aktuil menitikkan airmata mengenang masa jaya Aktuil, seraya berucap dengan suara tercekat, “Astaghfirullah al’adzim.” Layar Untuk Kaum Muda ditutup dengan Padamu Negri dalam alunan keyboard John Lord.

Film berdurasi selama 43 menit ini patut diacungi jempol. Meski sayangnya Erfan, sutradara merangkap researcher sekaligus editor film ini, tak mencantumkan subtitle profesi di bawah nama narasumbernya. Ini perlu untuk melihat otoritas narasumber. Jika dianggap sebagian besar penggila musik di Tanah Air mengenal nama-nama seperti Donny Fatah, Andy Julias, Ilham Affan dan Bens Leo, namun belum tentu masyarakat awam, apalagi penonton mancanegara.

Apalagi sepekan terakhir, Dr Drew Thompson begitu antusias berkoresponden dengan sutradara UKM. Drew direktur Thompson Music, perusahaan musik yang belasan tahun bekerja sama dengan Deep Purple. Perusahaan ini mengedarkan lagu dan dokumentasi Deep Purple dalam bentuk video. Drew yang bermukim di Melbourne, Australia, juga terlibat dalam manajemen (overseas) Deep Purple. Ia berniat mendistribusikan UKM di bawah labelnya.

“Cuma ada empat copy DVD asli di dunia. Di gue, Kelik (panggilan Arif Basuki), Drew dan lo,” kata Erfan kepada saya, Jum’at pekan lalu.

Saya pun segera memperbajak keping digital itu, sebelum dikangkangi major label global.

Rangkapanjaya, 1/8/2010

*Penulis adalah penulis kambuhan.

Kamis, 27 Mei 2010

Salurkan Beasiswa dan Infaq Pembangunan Mesjid

Jakarta, Kanal37
Banyak siswa kurang mampu namun giat bersekolah di SMAN 37. Kondisi ini membuat Ikatan Alumni SMAN 37 Angkatan 1991 (ILUNI 37-91) prihatin.

Mereka pun menyalurkan beasiswa untuk para siswa tersebut di SMAN 37 Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Dana beasiswa itu
berasal dari sumbangan para alumni SMAN 37 angkatan 91 dan lembaga donor yang tidak mengikat. Hasilnya sebanyak tujuh siswa mendapat beasiswa sebesar 8,4 juta rupiah.

“Kami berharap adik-adik yang mendapat beasiswa ini makin semangat belajar,” kata Yudha Arifianto, Wakil Ketua ILUNI 3791.

Yudha menyatakan kembali komitmen ILUNI 3791 kepada almamaternya. “Ini salah satu bentuk kepedulian kami,” katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, para murid penerima beasiswa, beberapa pengurus dan anggota ILUNI 3791. B
easiswa tersebut diterima Kepala Sekolah SMAN 37 Ibu Dra. Nilwathny S., MM.

Nilwathny yang didampingi lima wakil kepala sekolah menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan para alumni. Nilwathny berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi alumni angkatan lainnya.“Masih banyak adik-adik kalian yang kurang beruntung,” ungkapnya.

ILUNI 3791 juga pernah menyalurkan bantuan pendidikan sebesar Rp 5 juta pada 28 Agustus 2008 lalu. Bantuan ini berasal dari kelebihan dana dari penyelenggaraan reuni angkatan 1991 yang digelar 9 Agustus 2008 di Jakarta.(lihat: BANTUAN PENDIDIKAN)

Infaq Masjid S
MAN 37
Dalam kesempat
an yang sama juga diserahkan infaq pembangunan Masjid SMAN 37 Jakarta. Infaq sebesar Rp 10 juta itu didapat dari para alumni SMAN 37 angkatan 1991.

Ketua Dewan Penas
ehat Iluni 3791, Satrio Nur Rachmanto menyerahkan infaq tersebut kepada Ketua Panita Pembangunan Masjid SMAN 37, Drs. Sarwani.

Sarwani menyatakan infaq ini sangat berarti, mengingat saat ini pembangunan masjid tersebut terhenti karena kekurangan biaya. Ia mengaku, panitia pembangunan masjid yang dipimpinnya masih menanggung hutang kepada beberapa pihak.

“Semoga amal shaleh kalian mendapat pahala dari Allah Swt. Dan dicurahkan rizki yang berlimpah,” doanya.

Written by Gamal Ferdhi (26/5/2010)

Rabu, 01 April 2009

SAKSIKAN !
PERTANDINGAN BOLA BASKET TERBESAR ABAD INI
ANTARA
TEAM ILUNI 37
VS
TEAM BASKET SMA 37
HARI SABTU, 4 APRIL 2009
PUKUL 17.00 - 19.00 WIB
DI LAPANGAN BASKET
Senayan Trade Center lt. 6
MARI KITA DUKUNG TEAM KEBANGGAAN KITA
JANGAN LEWATKAN
DIMERIAHKAN OLEH TEAM CHEERLEADER ILUNI 37_91
ADRI, NILA, YUYUN, BONCEL, BOCIL, LIA BOHAY dll........
RSVP : ADRI + BEJO
TIKET dapat diambil di
SMAN 37 & UCUN CAFE

Kamis, 12 Februari 2009

Sumbangsih Alumnus Buat Sang Guru

Silaturahmi yang sempat putus, terjalin kembali lewat para alumnus yang membentuk sebuah komunitas. Setelah itu jangan sampai terputus lagi.

KACANG tidak lupa kulit. Ungkapan dari peribahasa ini pantas disandang oleh Ikatan Alumni SMAN 37 Jakarta (ILUNI 37-91). Mantan siswa-siswi SMA ini memberikan wujud terima kasih dan sumbangsih mereka di mana mereka dahulu menimba ilmu.

Belum lama ini, di SMA Negeri 37, ILUNI 37 Angkatan 91 mengadakan Baksos (Bakti Sosial). Selain khitanan massal, dalam Baksos juga digelar pentas seni.

Sebuah tenda besar didirikan di lapangan basket SMAN 37 menaungi panggung berukuran 4x4 meter, lengkap dengan instrumen musik dan soundsystem sebesar 5.000 watt. Latar belakang panggung diberi tirai berupa selembar kain putih. Tiga film dokumenter reuni, karya bersama alumni 1991 yang bergelut di dunia film, broadcast dan jurnalistik, diputar di sana.

Panggung diisi oleh siswa-siswi untuk unjuk kemampuan di depan para alumni dan guru mereka. “Grup band, marawis, tari tradisional, modern dance silakan unjuk kebolehan di panggung ini,” undang Meina Suzanna, Koordinator Pentas Seni. Belakangan, alumni dan guru yang memiliki bakat seni juga tidak ragu naik pentas, membuat suasana makin semarak.

Program Manajer dan Koordinator Humas ILUNI 37-91 Gamal Ferdhi kepada Merdeka mengatakan, kegiatan yang mereka lakukan merupakan bagian dari misi sosial. “Kami memberikan bingkisan dan doorprizes buat guru, murid, dan sebagaian alumni. Acara sengaja difokuskan untuk lingkungan di sekolah,” jelas Gamal.

Menurut Gamal, dedikasi pahlawan tanpa jasa patut diberikan penghargaan. Seberapa pun yang telah diberikan para mantan murid tidak akan sanggup membalas jasa para guru.

Saat acara, ILUNI 37 mengundang guru yang telah pensiun, salah satunya Ibu Ruminah pernah menjadi guru Badan Penyuluhan (BP). Ibu Ruminah, kata Gamal, dulu merupakan tempat curhat bagi mereka. Undangan selebihnya adalah guru mereka yang masih menjabat di SMAN 37. Semua guru mendapat bingkisan berupa peralatan rumah tangga.

Saat Baksos digelar, seperti disebutkan Harini Sulistiani selaku Koordinator Baksos, ratusan pengunjung menikmati keceriaan acara. Sejumlah stand bazzar yang berdiri di arena Baksos dipenuhi orang. Barang-barang yang tersedia merupakan sumbangan para alumni angkatan 1991. “Hasil penjualan bazaar akan kami gunakan untuk kegiatan sosial selanjutnya,” ucap perempuan berkacamata ini.

Kepala Sekolah SMAN 37 Dra Nilwathny, MM menyambut bahagia atas penyelenggaraan Baksos. Menurutnya, ILUNI 37-91 adalah paguyuban alumni yang pertama menggelar acara sosial di SMAN 37. “Kami pihak sekolah tidak akan ragu mendukung setiap kegiatan yang bertujuan mengharumkan nama sekolah. Selain itu, keuntungan lain dari Baksos banyak alumni dari berbagai angkatan kembali menjenguk SMAN 37,” kata Nilwathny.

Sebuah silaturahmi yang dulu sempat terputus dan hilang, tambah Nilwathny, kini terjalin kembali dengan para alumni. “Dan saya berharap jangan sampai putus lagi,” pinta Nilwathny.

Ketua Pengurus ILUNI 37-91 Iman Arifiansyah sepakat dengan Nilwathny. Kata Iman, jalinan antara sekolah dan alumni memang perlu terus dibangun. “Saya berharap kegiatan Baksos menjadi embrio reuni akbar SMAN 37. Jika wadah besar itu terbentuk, kami akan siap melebur ke dalamnya dengan tidak melupakan semangat kebersamaan dengan karakter sosial yang peduli kepada sekolah dan masyarakat,” pungkas Iman.

Written by Yaumil Fadhil, harian MERDEKA (7/2/2009)

Berbagi Lewat Sunatan Massal


SEBANYAK 30 anak kecil seusia 7-14 tahun mendatangi sekolah SMAN 37, Kebon Baru, Jakarta Selatan. Anak-anak warga sekitar ini siap dikhitan. Hajatan diselenggarakan ILUNI 37-91 bekerjasama dengan pihak sekolah dibantu sebagian murid-murid SMA tersebut.

Fitriansyah bocah berusia delapan tahun terlihat menangis. Nafasnya sesenggukan. Air mata membasahi dua pipi montoknya. “Ryan ogah disunat,” kata Ryan, panggilan akrabnya.

Kedua orangtuanya sibuk membujuk si sulung dari dua bersaudara. Tiga dokter muda ikut turun tangan menenangkan si kecil Ryan.

Dokter seraya menyemprotkan spray anastesi bersiap melakukan penyunatan. Tapi Ryan bergeming. Tangisnya tetap membahana. Murid Madrasah Ibtidaiyyah Assa’diyah itu pun batal dikhitan.

“Padahal kemarin dia sendiri yang minta disunat. Formulirnya, dia juga yang ngasihin ke sini,” kata Soheh, ayah Ryan.

Bocah laki-laki kecil bersarung dan berbaju koko sebelum masuk ke ruang circumcisi (khitan, red) terlebih dahulu menunggu dalam sebuah kelas yang disulap menjadi ruang tunggu. Ruangan dihias balon dan kertas warna-warni sedemikian rupa untuk membuat menarik.

Di sana para peserta khitan duduk di atas hamparan karpet, asyik menyaksikan film kartun dan para alumni SMAN 37 memandu menyanyi bersama. Mereka dihibur untuk mengurangi rasa takut dan jenuh menunggu dikhitan.

“Suasana ruangan dirancang agar mereka tidak takut menjelang dikhitan,” kata Cicilia Luise, alumni SMAN 37 yang kini menjadi guru salah satu sekolah musik di bilangan Cinere, Jakarta Selatan.

Sekitar 20 dokter muda dari Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersiap di kelas yang disediakan sebagai ruang circumcisi. Sebuah kelas berukuran 5 x 20 meter dibagi menjadi lima bilik dengan tirai kain putih.

Ketika para peserta dipanggil masuk ke bilik-bilik khitan, tangisan pun meledak dari mulut mungil mereka. Kalimat menghibur dilontarkan para dokter muda dan orangtua yang mengantarkan putranya. Tak urung dua bocah batal ikut khitanan massal.

“Satu orang mengundurkan diri. Seorang lagi karena alasan medis, dirujuk ke rumah sakit untuk observasi lebih lanjut,” jelas koordinator khitanan massal Ade Irwan.

Prosedur yang ditetapkan tim dokter, usai dikhitan anak-anak tersebut wajib menunggu di ruang pemulihan selama 30 menit. Tujuannya untuk melihat reaksi pasien pasca operasi circumcisi. Salah seorang dokter yang merupakan alumni menjadi supervisi dari tim dokter.

Seusai dikhitan, wajah mereka sumringah penuh kebahagiaan. Pasalnya, semangkuk es krim menunggu di ruang ini. Tak cuma itu, mereka mendapat tas berwarna merah berisi aneka cinderamata yang disiapkan penyelenggara untuk dibawa pulang.

“Bingkisan merupakan bagian dari sponsor penyelenggara yang kebetulan salah satu dari alumni bekerja di situ, sehingga memudah kan kami untuk mengajukannya, papar Gamal yang menjadi Program Manager dan Koordinator Humas dari ILUNI 37-91.

Buhairi, ayah dari M Hafizurahman yang dikhitan pada hari itu, merasa senang dan bersyukur atas program yang telah dilakukan pihak sekolah dan alumninya.

“Kami sebagai warga yang berada di sekitar wilayah sekolah merasa berterima kasih kepada SMAN 37, beserta alumninya. Sunatan sekarang kan mahal. Jadi dengan sunatan ini, Alhamdulillah kami terbantu,” ungkap Buhairi.

Khitanan massal termasuk rangkaian kegiatan Bakti Sosial (Baksos) menyambut HUT SMAN 37. Penyelenggaranya Ikatan Alumni SMAN 37 Jakarta angkatan 1991, biasa disebut ILUNI 37-91.


Written by Yaumil Fadhil, harian MERDEKA (7/2/2009)

Tak Bertemu 17 Tahun


MASA SMA adalah nostalgia terindah. Momen itu kerap menempel dalam kenangan dan mengundang keinginan untuk mengulangnya kembali lewat acara reunian. Ketika tidak bertemu sekian lama, tentu memiliki banyak cerita yang tak habis untuk diperbincangkan.

Tak lepas dari itu, wajar sekiranya jika sebuah sekolah memiliki paguyuban alumni. Begitu pula dengan para alumnus SMAN 37 yang lulus di tahun 1991-an. Sekian tahun tidak bertemu ada kerinduan bersama kawan-kawan untuk berkumpul bersama. Kemudian, setelah 17 tahun tak bertemu, perhelatan reuni pertama angkatan tahun 1991 itu pun terwujud pada 9 Agustus 2008. Haru-biru pertemuan angkatan pun meleleh.

Mengingat angkatannya merupakan kelompok usia mapan, para mantan pelajar 90-an itu kemudian menelurkan gagasan untuk membentuk wadah bagi para alumnus. Suatu wadah yang bertujuan mempererat persaudaraan anggota-anggotanya yang telah lama terpisah. Lantas, lahirlah Ikatan Alumni SMAN 37 angkatan 1991 yang biasa mereka sebut ILUNI 37-91.

ILUNI 37-91 dideklarasikan oleh Iman Arifiansyah, sehingga reuni tahun 2008 bisa terlaksana. Setelah itu diadakan pemilihan Ketua ILUNI dengan empat kandidat. Iman mendapat suara terbanyak dan dinobatkan sebagai Ketua ILUNI 37-91. Dalam wadah ini terhimpun sekitar 500 alumni yang terdiri dari berbagai profesi.

Meski baru berusia seumur jagung, ILUNI 37-91 telah banyak melakukan kerja sosial. Semisal, alumni memberikan sumbangan berupa beasiswa pendidikan kepada murid-murid kurang mampu. Dananya terkumpul melalui kocek para alumni.

“Lembaga ini juga membantu teman-teman yang sedang kesulitan. Meski dananya kami dapat dari teman-teman lain yang memiliki rejeki berlebih. Selain kegiatan amal, sejumlah pelatihan guna meningkatkan kapasitas murid SMAN 37 sedang dirancang oleh para ILUNI 37-91,” jelas Iman.

Pasca reuni pada Ramadhan tahun lalu, komunitas ini menggelar buka puasa yang diikuti anak-anak yatim-piatu dari Yayasan Nurul Iman di Srengseng, Yayasan Umat Muslim untuk Kesejahteraan Anak di Cawang, dan Yayasan Nurul Ikhlas dari Kemayoran. Layaknya buka puasa bersama, rangkaian kegiatan diikuti Taushiyah sebelum berbuka dan tarawih.

Written by Yaumil Fadhil, harian MERDEKA (7/2/2009)

Sabtu, 17 Januari 2009

Sekolah Dukung Baksos ILUNI 37-91



Jakarta, Kanal37
Ikatan Alumni SMAN 37 angkatan 1991 (ILUNI 37-91) meminta ijin Kepala Sekolah SMAN 37 Dra. Nilwathny S., MM untuk menggelar bakti sosial. Iman Arifiansyah, perwakilan alumni, menjelaskan kegiatan tersebut berupa sunatan masal, bazaar makanan, dan music corner.

“Acara ini digelar di SMAN 37 pada Sabtu 31 Januari 2009 mulai pukul 08.00 WIB. Kami memerlukan dukungan dari sekolah,” kata Iman yang juga Ketua Umum ILUNI 37-91 di Kantor Kepsek SMAN 37 Jakarta, Senin (12/1/2009).

Tampak mendampinginya, Koordinator Pelaksana Baksos Harini, Yudha Arifianto, Gamal Ferdhi, Fidina Sari (Fifi), Lizta Mariani dan Lia Ratnasari.

Ibu Nilwathny mengabulkan permohonan Iluni 37-91. Bahkan mendukung dengan ikhlas kegiatan tersebut. Dia berharap agar kegiatan tersebut dapat menjembatani tali silaturahim antara pihak-pihak yang terlibat.

“Kami berdoa acara kalian bisa berjalan lancar, aman dan sesuai dengan tujuannya,” kata Ibu Nilwathny.

Beberapa petinggi sekolah turut dalam pertemuan tersebut. Mereka adalah Bp. Budi Winahyu (Wakepsek bidang Kesiswaan), Ibu Frida Silitonga (Wakepsek bidang Sarana dan Prasarana), Bp Riptahadi Wibisono (Wakepsek bidang Kurikulum), dan Bp Sarwani (Pembina ROHIS).

Pihak sekolah berharap kegiatan alumni lainnya menggelar kegiatan seperti alumni angkatan 1991.

“Apalagi jika alumni menggelar kegiatan yang bertujuan untuk membantu adik-adik siswa SMAN 37 dapat terlaksana secara berkesinambungan,” imbuh Ibu Nilwathny.

Iman pun menyatakan terima kasihnya, diimbuhi permintaan lain. Panitia, kata Iman membutuhkan 30 peserta sunatan massal yaitu anak usia 7 sampai 14 tahun. Panitia juga meminjam ruang kelas untuk sunatan massal dan kegiatan lainnya.

“Kami juga butuh meja, kursi dan bantuan dari siswa SMAN untuk kegiatan ini,” pinta mantan Ketua OSIS SMAN 37 angkatan 1991 ini.

Penjaringan peserta anakb-anak yang akan mengikuti sunatan massal dikabulkan Bp. Sarwani. Namun sebelum itu, dia meminta Iluni menyiapkan formulir untuk peserta sunatan massal itu.

“Pesertanya anak-anak dalam lingkungan sekolah dan sekitar sekolah,” jelas pria berjenggot ini.

Sementara untuk siswa yang akan membantu Iluni akan direkrut Bp Budi Winahyu. “Mereka dari pengurus OSIS dan Rohis,” kata Pak Budi.

Usai pertemuan itu, Ibu Frida mengajak delegasi ILUNI itu melihat ruang kelas dan perlengkapan yang bakal digunakan saat bakti sosial. Harini membuat mensketsa tata letak ruangan. Iman mengukur luas meja untuk matras para pasien sunat di sebuah kelas.

Di sana terlihat sekelompok gadis belia dan lelaki muda yang sedang bercanda. Wajah mereka ceria dan segar untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Mereka tak terusik dengan kelakuan para bekas penghuni sekolah samping rel itu.

“Kok anak SMA sekarang lebih muda-muda dibanding kita dulu, ya?” kata Iman iseng.

“Dulu lo juga begitu lagee. Cuma lo ngeliatnya waktu tua, jadi merasa mereka lebih muda,” kata Fifi.

Fifi benar, pernyataan Iman itu akibat dia kini berada di usia madya dini. Usia yang berkisar antara 40 hingga 50 tahun. Menurut psikolog Elizabeth B. Hurlock, usia ini adalah masa yang paling menentukan seperti apa hidup seseorang akan berakhir.

Makanya ada ungkapan kondang: life begin @ forty. Nah, menjelang forty, ayo kita sukseskan baksosnya, agar bermakna buat sesama.

written by Gamal Ferdhi

Senin, 29 Desember 2008

Contact Request

Ass.Wr.Wb
Numpang nebeng.
Saya alumni 91, tetapi bukan siswa, namun guru. Saya pernah mengajar matematika angkatan anda ketika kelas 1, yaitu tahun ajaran 88/89 semseter 2. Tahun 1991 saya pindah ke SMPN 254 Jagakarsa. Beberapa siswa yang masih saya ingat: Siti bathiah Balqis, Damayanti, R.Bambang Suryo, Iqbal (i.6), Ahmad Fajri (1.6), si kembar Lina Marlina dan Leni Marleni, Sigit Pramono, pacarnya Titin, Sri Mayangsari dll. Kalau adik kelas anda yang saya ingat: Sudaryati Sudarto, putrinya Bu Sudiyati, Septi, dll.

Kalau anda kebetulan saya ajar, saya minta no hp atau alamat emailnya ya? Ini nomor hape saya, tapi sms saja 08561110254
Terima kasih admin blog ini

--
Sri Santoso
srisantoso.1@gmail.com

Jumat, 28 November 2008

Najmah

Berawal dari sebuah gugatan. Pengurus Iluni dinilai terlalu asyik mengurus hura-hura. Larut dalam polemik dokumentasi reuni hingga abai missi sosial Iluni. Gugatan itu mendorong saya mewakili ILUNI 37-91 dan dua teman bertandang ke ruang Perinatologi RSCM.

Lorong seantero RSCM tak pernah berubah. Nuansa muram masih setia menggayut di rumah sakit peninggalan kolonial itu. Begitu pun selasar sebelah kanan Gedung Central Medical Unit (CMU) RSCM, Jakarta. Siraman cahaya empat set neon tak dapat menghalau temaram Sabtu (15/11) malam itu. Beberapa keluarga pasien melepas penat di sana.Tampak pula seorang bocah delapan tahun bersimpuh sendirian di tikar merah.

“Nauval, tunggu di situ sebentar. Ayah ke atas dulu,” kata ayahnya setengah berteriak dari depan gerbang CMU.

Anak kecil itu mengangkat kepalanya seraya mengangguk dan tersenyum. Lantas kembali tenggelam dalam keasyikannya. Usai mendapuk saya menemani bocah itu, kedua teman saya segera ke lantai 3 Gedung CMU diantar ayah Nauval.

“Hai, saya Gamal. Kawan ayahmu waktu SMA. Nama kamu siapa?” kata saya sembari menjabat tangannya. “Nauval,” katanya diimbuhi senyum.

Saya mengusik kesibukannya. Nauval menunjukkan jeep 4x4 sekepalannya. Dia memodifikasi mainan itu dengan menjepitkan sebuah senter led sebesar kelingking di rangka terpal jeep. Minatur mobil off road itu layaknya memanggul meriam besar.

Beberapa keluarga pasien lain yang baru datang ke selasar itu menyapa Nauval dengan hangat. Dia membalasnya dengan senyum. Nauval murid kelas 2 di sebuah SD Negeri di Kebon Baru. Dari caranya menghadapi orang lain, saya menilai dia bocah beremosi cerdas. Perkiraan saya tak meleset. Prestasi akademisnya pun lumayan.

“Rangking ya, di kelas?” “Waktu kelas 1 rangking 6 dan 7. Bagi rapot kemarin, rangking 6,” ungkapnya.. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul. Lima belas menit berlalu, Ayah Nauval tak kunjung kembali. “Biasa nih kalo ibu-ibu yang besuk, jadi kelamaan ngobrol,” pikir saya.

Limpasan hujan dari cucuran mulai membasahi lantai, membuat kami tak nyaman bercengkrama di selasar itu. Nauval membenamkan tubuhnya dalam jaket karet sintetis hitamnya. Dia bilang sejak pukul 1 siang sudah tiba di RSCM.

“Kamu lapar, nggak? Saya lapar, nih. Kita makan yuk,” ajak saya. Bocah itu menggangguk antusias. “Tapi saya nggak tau tempatnya. Terserah Nauval aja deh.”

Dia bergegas ke arah jembatan kayu yang membelah jalan Inspeksi dan Sungai Ciliwung. Sejenak saya ragu.. Lorong itu minim penerangan. Tapi karena buta tempat itu, saya mengikutinya. Kelihatanya Nauval akrab dengan daerah itu. Kami melintasi jembatan tersebut, menyongsong rinai gerimis menuju sebuah warung nasi sederhana di jalan Kimia.

Sang empunya warung menyambut Nauval dengan hangat layaknya bertemu kawan lama. Saya memersilahkan Nauval memilih sendiri menu favoritnya. Belum sempat nasi disantap, segenap warung di sana mati listrik. Saya bersungut-sungut minta lilin. Tapi Nauval tenang saja. Dia merogoh saku jaketnya. Jeep bersenter led pun menerangi piringnya.

“Cerdas nih anak,” saya kembali kagum padanya. “Kami memang biasa makan di situ. Malah Nauval suka numpang bikin PR di situ,” kata ayah Nauval, setibanya saya dan bocah itu kembali ke selasar Gedung CMU.

Nauval Aryando adalah putra sulung pasangan Sudarlindo Warman Esa dan Aryanti. Seperti juga kedua orang tuanya, setiap hari Nauval harus berlelah-lelah pergi pulang dari RSCM ke rumah mereka di kawasan Kebon Baru, Jakarta. Sepulang sekolah, Nauval kerap menemani ibunya ke rumah sakit itu. Mereka kembali ke rumah malam hari dijemput ayahnya seusai bubaran kantor.

“Capek nggak ke sini terus?” tanya saya kepada Nauval di awal pertemuan kami.

“Nggak. Aku kan nunggu adikku,” jawab Nauval.

“Kamu senang punya adik?” Dia mengiyakan dengan senyumnya.

“Pernah lihat adikmu?”

Dengan senyum lagi dia menggeleng. “Tapi aku pernah lihat fotonya.”

“Siapa namanya?”

“Najmah,” katanya singkat.

Adik perempuannya, Najmah masih dalam pengampuan rumah sakit itu. Najmah Haaniyah Arlin, begitu Sudarlindo menamakan putri bungsu mereka. Najmah adalah kata dalam bahasa Arab yang artinya bintang. Haaniyah berarti kesayangan.

“Arlin singkatan dari nama kita berdua. Jadi artinya, bintang kesayangan Aryanti dan Sudarlindo,” jelas Sudar panggilan karib Sudarlindo.

Najmah lahir 9 September 2008 di RSCM Jakarta. Tuhan berkehendak bayi perempuan itu lahir lewat operasi Caesar di usia kandungan 6 bulan 1 minggu. Penyebabnya, tekanan darah Aryanti, Ibu Najmah, melonjak. Berat Najmah waktu itu hanya 800 gram.

Sudar masih ingat kata-kata dokter yang menolong kelahiran putrinya itu. “Ibu jangan berharap banyak bayi Ibu hidup.”

Tapi Sudar tak peduli pesimisme sang dokter. “Gue pasrah aja, yang penting gue berjuang dulu,” katanya.

Seminggu setelah kelahiran, buah hati mereka baru dapat dijenguk di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Bayi perempuan ini terbaring lemah di inkubator dengan bantuan beberapa peralatan medis. Jarum infus menancap di sekujur tubuh Najmah. Selang-selangnya menjuntai mengasup cairan menuju tangan kanan dan kiri, kaki kanan dan kiri dan kepala si mungil. Electrocardiogram (ECG) terus melaporkan detak jantungnya. Ventilator (alat bantu pernapasan) dipasang di hidungnya.

Di tengah jalan, dokter menyarankan ventilator diganti dengan oksigen bertekanan tinggi. Padahal untuk mendapatkan ventilator, Sudar sempat dipingpong pihak rumah sakit. Alasan mereka, semua ventilator masih dipakai pasien lain. Dia diminta RSCM agar menyewa dari rumah sakit lain. Dalam kegalauannya, akhirnya RSCM memenuhi kebutuhan ventilator untuk buah hatinya.

Meski Najmah masih di rumah sakit, Sudar tetap menggelar aqiqah buat putrinya di pertengahan Oktober 2008. “Gue harus berusaha sekuat tenaga buat dia. Keputusannya di tangan Tuhan,” kata Sudar. Belum tuntas hajatan berlangsung, rumah sakit menelepon. Najmah beberapa hari tak buang air besar. Pasangan itu diminta menyediakan alat bantu. Bersama salah satu karibnya di SMA, Yossi Dwi Hartono, Sudar menelusuri apotek-apotek di Ibukota. Hasilnya nihil.

Dokter menawarkan pilihan terburuk, membuat anus buatan. Tapi seorang dokter yang iba kepadanya memberi alternatif. Alat bantu tersedia, tapi bekas dan harus disterilisasi. Setelah berkonsultasi dengan dokter bedah, Sudar pun menyetujui. Najmah kembali dilimpahi kemurahan Tuhan. Salah satu masalah teratasi.

“Musti bersyukurlah, anak gue cuma prematur. Gak ada penyakit-penyakit lain. Masih banyak yang lebih susah,” kata Sudar.

Hingga Sabtu lalu, Sudar dan keluarganya masih harus bertandang ke rumah sakit dua kali sehari. Pagi hari mengantar perahan ASI istrinya untuk Najmah, sekalian mengambil resep obat. Malam sepulang kantor, dia mengantar obat yang telah ditebus. Sekaligus menjemput istrinya dan Nauval.

Kondisi Najmah berangsur membaik. Dua minggu terakhir semua alat bantu yang menempel di tubuh mungilnya sudah dicabut. Kini beratnya 1.700 gram.

“Dokter bilang, kalau 1.800 gram boleh pulang. Jadi kita musti hati-hati menjaganya,” kata Ariyanti berharap.

Perhatian utama lainnya adalah menjaga kadar hemoglobin. Akibat kadarnya rendah, selama perawatan Najmah sudah ditransfusi 15 kantong darah. Saya menawarkan diri mendonorkan darah seandainya Najmah membutuhkan.

“Kebetulan darah gue O. Kontak gue segera kalo butuh.”

“Mudah-mudahan sih nggak butuh,” Sudar menimpali.

Ada kekhawatiran lain menghantui keluarga ini. Penggunaan oksigen tekanan tinggi dapat berdampak pada pengelihatan Najmah. Dokter menyarankan terapi laser sebagai solusi. Tak cuma itu, kalium posphat, obat untuk membantu pertumbuhan tulang, belum didapat hingga kini. “Udah kelilingan belum nemu juga,” jelas Sudar.

Melihat begitu banyaknya tindakan medis, dengan rikuh saya menanyakan biaya pemulihan Najmah. Puluhan juta sudah keluar dari saku keluarga tersebut. Itu pun sudah ditopang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang hanya mengcover 50 persen dari keseluruhan biaya. Hutang sekitar dua puluh juta sudah menanti.

“Sampai semua harta gue habis gue ikhlas demi anak,” tegas Sudar.

“Kalau sampai habis juga gak bisa keluar bagaimana?” tanya saya usil.

“Gue pasang badan, Mal!” Saya terkesiap dan meminta maaf. Pertanyaan saya itu, seolah niatan meninggalkannya sendirian melawan masalah.

Saya membesarkan hatinya, “yang bakal bantuin lo bukan anak Bio aje, Dar. Alumni 37 semua, temen lo.”

Sumbangan dalam bentuk apapun memang sangat dibutuhkan Keluarga Sudar. Agar Najmah cepat pulih dan segera berkumpul bersama keluarganya. Apalagi Nauval, kakak Najmah. Laki-laki kecil ini begitu merindukan adiknya.

“Kata ayah, gak boleh naik sama Pak Satpam. Tapi nanti kalau Pak Satpam di atas nggak ada, aku bakal naik sendiri ketemu adikku,” Nauval bertekad.

Mendengar itu tenggorokan saya serasa menelan kerikil.

Written by Gamal Ferdhi.

Sabtu, 18 Oktober 2008

HALAL BIHALAL SMA Negeri 37 Jakarta Lulusan Th 91

Buat Semua warga SMA 37 Jakarta yang lulus di taon 91 akan diadakan acara

"HALAL BIHALAL PASCA REUNI & LEBARAN"

yang insya allah pada,

Tanggal : 25 Oktober 2008
Hari : Sabtu
Jam : 15:00 WIB s/d 22:00 WIB
Tempat : GABAN STUDIO
Alamat : Buncit Raya, Mampang Prapatan sebelah Dealer Mobil Nissan
HTM : Rp. 25.000,- include fresh cemilan & gorengan
Acara : - Pembagian CD (bukan celana dalem) acara Reuni agustus lalu
- Nyanyi gratis di iringi Organ Tunggal "O.M OION MIDI"
- Foto Bareng selebritis (Indra birowo)
- Dimeriahkan bagi-bagi "Door Prize" dr yg berulang tahun di bulan Oktober (to be confirmed)

Untuk Info dan pemesan tempat Hub : Gus Gamal di 0811977xxx atau gamalferdhi@yahoo.com (24 jam on line) (kayak circle K)


DON'T MISS IT

Jumat, 26 September 2008

Buka Puasa Bersama ILUNI 37-91
Berbagi Kebahagian Bersama Yatim Piatu


Jakarta, Kanal 37
Matahari sore menembus rimbun deretan pepohonan di jalan Tanjung. Area ring satu masa Orde Baru berkuasa itu lengang, hingga diusik deru metromini yang datang. Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 1998, moda transportasi itu adalah momok bagi Pasukan anti Huru-Hara (PHH) Kodam Jaya yang bertugas di sana. Pasalnya, bis tanggung itu andalan para demonstran untuk merangsek kawasan tersebut.

Kini tidak ada PHH bertameng dan demonstran dengan ikat kepala, justru puluhan gadis cilik berjilbab dan bocah lelaki berbaju takwa menghambur dari perut bis berwarna jingga merona itu.

Mereka adalah anak-anak yatim piatu dari tiga panti asuhan di Jakarta yang dikerahkan oleh sahibul bait Satrio N. R.. Mereka berasal dari Yayasan Nurul Iman, Srengseng, Yayasan Umat Muslim untuk Kesejahteraan Anak, Cawang dan Yayasan Nurul Ikhlas, Kemayoran.

Ikatan Alumni SMAN 37 angkatan 1991 (ILUNI 37-91) sengaja mengundang para tamu kehormatan itu untuk buka puasa bersama di kediaman Satrio ‘Bejo’ Nur Rachmanto di Jl. Tanjung No. 17, Menteng, Sabtu, (20/9/2008).
(Lihat Foto-foto buka Bersama)

Seraya duduk manis di ruangan yang lebih sejuk ketimbang kabin metromini, mereka menyaksikan film animasi Anak Sholeh yang diputar panitia. Sementara para alumni masih sibuk mempersiapkan piranti acara. Mulai dari kotak donasi hingga konsumsi.

Menjelang pelaksanaan acara, empat bintang utama membatalkan kehadiran. Dengan sigap Lia Ratna, supervisor kegiatan, merevisi susunan acara. Kekhidmatan buka puasa bersama itu ditingkahi kesibukan panitia menata sumbangan konsumsi yang terus berdatangan. Meski gratis, sekitar seratus undangan yang hadir dalam acara tersebut menikmati hidangan yang layak dan berlimpah.

Demikian halnya dengan sedekah dan sumbangan. Selain dapat berbagi dengan bingkisan dan uang untuk 60 yatim piatu yang hadir di acara tersebut, alumni 37-91 juga tidak melupakan delapan yatim di lingkungan keluarga besar ILUNI 37-91.

“Bagi yatim di lingkungan kita, akan didistribusikan segera sebelum Hari Raya Idul Fitri. Ini berlaku juga untuk fidiyah dari teman-teman,” kata Program Officer Buka Puasa Bersama R. Ponco Hartawan kepada Kanal 37.

Yudha Arifianto juga mengomentari kesibukan seluruh alumni, dari berbagai latar belakang, yang tekun menyukseskan Buka Puasa Bersama itu. “Salut gue ama angkatan kita. Kalo ada cara semua jalan dan kompak ngedukung,” kata cowok kalem yang bakal didapuk jadi Deputi Ketua Iluni, setengah berbisik.

Seluruh guru, alumni dan yatim piatu yang hadir duduk mengitari ruang tamu rumah Satrio yang disetting sebagai aula pertemuan dan tempat shalat berjama’ah.

Didampingi Fidina Sari yang didaulat menjadi pembawa acara, Ketua Iluni ILUNI 37-91 Iman Arifiansyah menyampaikan sambutanya. Menurut Iman, acara buka puasa bersama adalah untuk berbagi kebahagian bersama yatim piatu.

“Kami sudah sosialisasikan acara ini ke beberapa angkatan alumni. Mereka mendukung sepenuhnya. InsyaAllah, mereka akan membangun jaringan dengan kita,’ kata Iman optimis.

Mantan Ketua OSIS angkatan 1991 juga menyatakan terima kasih atas dukungan para guru terhadap ILUNI 37-91. “Kedatangan bapak dan ibu guru ke acara ini memotivasi kami untuk membangun ILUNI ini agar lebih bermanfaat bagi sekolah,” papar Iman.

Saat memberi sambutan, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMU 37 Drs. Budi Winahyu mengungkapkan keharuannya. “Bangga kami melihat kalian sekarang ini. Meski 17 tahun berpisah bisa kembali menjalin tali silaturrahim,” kata Pak Budi.

Guru-guru yang hadir dalam acara ini, kata Pak Budi, juga dititipi ucapan terima kasih dari adik-adik dan keluarga yang dibantu alumni. “Mereka berdoa semoga kakak kelasnya angkatan 1991 mendapat pahala dan rejeki berlimpah,” kata Pak Budi.

Seperti diketahui, Reuni 37-91 menyisihkan kelebihan dana kegiatan sebesar Rp 5 juta untuk tiga siswa kurang mampu. Mereka tidak dapat membayar SPP selama empat hingga enam bulan.

Selain berterima kasih, pihak SMU 37 berharap tali silaturahim dengan alumninya tidak terputus. “Meski secara organisasi kita berbeda, tapi masih tetap satu keluarga besar SMAN 37. Dan silaturahim kita ini tidak berhenti di hari ini, tapi berlangsung hingga akhir hayat,” ungkap Pak Budi yang pada 1991 mengajar Fisika.

Sebelum berbuka bersama, para tetamu disuguhi siraman rohani oleh Ustadz H. Abdullah pengasuh Panti Asuhan Nurul Ikhlas, Kemayoran. Inti tausyiah H. Abdullah agar setiap manusia, terutama kaum muslimin menjauhi dusta dan berbuat curang. “Apalagi ini bulan Ramadhan,” kata Ustadz Abdullah.

Dia menekankan, ”kalau sekali kita berbohong, maka selanjutnya susah sekali mendapat kepercayaan dari orang lain.”

Adzan Magrib yang berkumandang menamatkan forum tersebut. Semua alumni yang hadir bahu-membahu menyiapkan ta’jil untuk para yatim. Dilanjutkan dengan shalat Magrib, Isya dan Tarawih berjama’ah. Di akhir acara para guru yang hadir mendapat bingkisan dari alumni 37-91, begitu pula para yatim piatu. Dan acara yang paling ditunggu alumni pun berlanjut: ramah tamah dan foto-foto.


written by Gamal Ferdhi