Sabtu, 18 Oktober 2008

HALAL BIHALAL SMA Negeri 37 Jakarta Lulusan Th 91

Buat Semua warga SMA 37 Jakarta yang lulus di taon 91 akan diadakan acara

"HALAL BIHALAL PASCA REUNI & LEBARAN"

yang insya allah pada,

Tanggal : 25 Oktober 2008
Hari : Sabtu
Jam : 15:00 WIB s/d 22:00 WIB
Tempat : GABAN STUDIO
Alamat : Buncit Raya, Mampang Prapatan sebelah Dealer Mobil Nissan
HTM : Rp. 25.000,- include fresh cemilan & gorengan
Acara : - Pembagian CD (bukan celana dalem) acara Reuni agustus lalu
- Nyanyi gratis di iringi Organ Tunggal "O.M OION MIDI"
- Foto Bareng selebritis (Indra birowo)
- Dimeriahkan bagi-bagi "Door Prize" dr yg berulang tahun di bulan Oktober (to be confirmed)

Untuk Info dan pemesan tempat Hub : Gus Gamal di 0811977xxx atau gamalferdhi@yahoo.com (24 jam on line) (kayak circle K)


DON'T MISS IT

Jumat, 26 September 2008

Buka Puasa Bersama ILUNI 37-91
Berbagi Kebahagian Bersama Yatim Piatu


Jakarta, Kanal 37
Matahari sore menembus rimbun deretan pepohonan di jalan Tanjung. Area ring satu masa Orde Baru berkuasa itu lengang, hingga diusik deru metromini yang datang. Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 1998, moda transportasi itu adalah momok bagi Pasukan anti Huru-Hara (PHH) Kodam Jaya yang bertugas di sana. Pasalnya, bis tanggung itu andalan para demonstran untuk merangsek kawasan tersebut.

Kini tidak ada PHH bertameng dan demonstran dengan ikat kepala, justru puluhan gadis cilik berjilbab dan bocah lelaki berbaju takwa menghambur dari perut bis berwarna jingga merona itu.

Mereka adalah anak-anak yatim piatu dari tiga panti asuhan di Jakarta yang dikerahkan oleh sahibul bait Satrio N. R.. Mereka berasal dari Yayasan Nurul Iman, Srengseng, Yayasan Umat Muslim untuk Kesejahteraan Anak, Cawang dan Yayasan Nurul Ikhlas, Kemayoran.

Ikatan Alumni SMAN 37 angkatan 1991 (ILUNI 37-91) sengaja mengundang para tamu kehormatan itu untuk buka puasa bersama di kediaman Satrio ‘Bejo’ Nur Rachmanto di Jl. Tanjung No. 17, Menteng, Sabtu, (20/9/2008).
(Lihat Foto-foto buka Bersama)

Seraya duduk manis di ruangan yang lebih sejuk ketimbang kabin metromini, mereka menyaksikan film animasi Anak Sholeh yang diputar panitia. Sementara para alumni masih sibuk mempersiapkan piranti acara. Mulai dari kotak donasi hingga konsumsi.

Menjelang pelaksanaan acara, empat bintang utama membatalkan kehadiran. Dengan sigap Lia Ratna, supervisor kegiatan, merevisi susunan acara. Kekhidmatan buka puasa bersama itu ditingkahi kesibukan panitia menata sumbangan konsumsi yang terus berdatangan. Meski gratis, sekitar seratus undangan yang hadir dalam acara tersebut menikmati hidangan yang layak dan berlimpah.

Demikian halnya dengan sedekah dan sumbangan. Selain dapat berbagi dengan bingkisan dan uang untuk 60 yatim piatu yang hadir di acara tersebut, alumni 37-91 juga tidak melupakan delapan yatim di lingkungan keluarga besar ILUNI 37-91.

“Bagi yatim di lingkungan kita, akan didistribusikan segera sebelum Hari Raya Idul Fitri. Ini berlaku juga untuk fidiyah dari teman-teman,” kata Program Officer Buka Puasa Bersama R. Ponco Hartawan kepada Kanal 37.

Yudha Arifianto juga mengomentari kesibukan seluruh alumni, dari berbagai latar belakang, yang tekun menyukseskan Buka Puasa Bersama itu. “Salut gue ama angkatan kita. Kalo ada cara semua jalan dan kompak ngedukung,” kata cowok kalem yang bakal didapuk jadi Deputi Ketua Iluni, setengah berbisik.

Seluruh guru, alumni dan yatim piatu yang hadir duduk mengitari ruang tamu rumah Satrio yang disetting sebagai aula pertemuan dan tempat shalat berjama’ah.

Didampingi Fidina Sari yang didaulat menjadi pembawa acara, Ketua Iluni ILUNI 37-91 Iman Arifiansyah menyampaikan sambutanya. Menurut Iman, acara buka puasa bersama adalah untuk berbagi kebahagian bersama yatim piatu.

“Kami sudah sosialisasikan acara ini ke beberapa angkatan alumni. Mereka mendukung sepenuhnya. InsyaAllah, mereka akan membangun jaringan dengan kita,’ kata Iman optimis.

Mantan Ketua OSIS angkatan 1991 juga menyatakan terima kasih atas dukungan para guru terhadap ILUNI 37-91. “Kedatangan bapak dan ibu guru ke acara ini memotivasi kami untuk membangun ILUNI ini agar lebih bermanfaat bagi sekolah,” papar Iman.

Saat memberi sambutan, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMU 37 Drs. Budi Winahyu mengungkapkan keharuannya. “Bangga kami melihat kalian sekarang ini. Meski 17 tahun berpisah bisa kembali menjalin tali silaturrahim,” kata Pak Budi.

Guru-guru yang hadir dalam acara ini, kata Pak Budi, juga dititipi ucapan terima kasih dari adik-adik dan keluarga yang dibantu alumni. “Mereka berdoa semoga kakak kelasnya angkatan 1991 mendapat pahala dan rejeki berlimpah,” kata Pak Budi.

Seperti diketahui, Reuni 37-91 menyisihkan kelebihan dana kegiatan sebesar Rp 5 juta untuk tiga siswa kurang mampu. Mereka tidak dapat membayar SPP selama empat hingga enam bulan.

Selain berterima kasih, pihak SMU 37 berharap tali silaturahim dengan alumninya tidak terputus. “Meski secara organisasi kita berbeda, tapi masih tetap satu keluarga besar SMAN 37. Dan silaturahim kita ini tidak berhenti di hari ini, tapi berlangsung hingga akhir hayat,” ungkap Pak Budi yang pada 1991 mengajar Fisika.

Sebelum berbuka bersama, para tetamu disuguhi siraman rohani oleh Ustadz H. Abdullah pengasuh Panti Asuhan Nurul Ikhlas, Kemayoran. Inti tausyiah H. Abdullah agar setiap manusia, terutama kaum muslimin menjauhi dusta dan berbuat curang. “Apalagi ini bulan Ramadhan,” kata Ustadz Abdullah.

Dia menekankan, ”kalau sekali kita berbohong, maka selanjutnya susah sekali mendapat kepercayaan dari orang lain.”

Adzan Magrib yang berkumandang menamatkan forum tersebut. Semua alumni yang hadir bahu-membahu menyiapkan ta’jil untuk para yatim. Dilanjutkan dengan shalat Magrib, Isya dan Tarawih berjama’ah. Di akhir acara para guru yang hadir mendapat bingkisan dari alumni 37-91, begitu pula para yatim piatu. Dan acara yang paling ditunggu alumni pun berlanjut: ramah tamah dan foto-foto.


written by Gamal Ferdhi

Kamis, 21 Agustus 2008

ILUNI 37-91 Serahkan Bantuan Pendidikan


Jakarta, Kanal37
Ikatan Alumni SMAN 37 Angkatan 1991 (ILUNI 37-91) menyerahkan bantuan pendidikan sebesar lima juta rupiah kepada SMAN 37. Bantuan pendidikan tersebut adalah kelebihan dana dari penyelenggaraan reuni angkatan 1991 yang digelar 9 Agustus lalu di Jakarta.

“Alhamdulillah, ini adalah bentuk partisipasi semua alumni. Walaupun kami akui ini hanya sedikit sumba
ngsih kami, dibandingkan sekolah kita dulu yang memiliki jasa sangat besar.”

Demikian Ketua ILUNI 37-91 Iman Arifiansyah Pulun memulai sambutannya ketika penyerahan simbolik bantuan tersebut di Ruang Guru SMAN 37, Rabu (20/8/2008), Pkl. 12.30 WIB. Hadir bersama Iman beberapa pengurus Iluni. Mereka adalah Yudha Arifianto, Lia Ratnasari, Fidina Sari, Gamal Ferdhi, Muhtad Wassil dan Rona Moranta Silitonga.

Bantuan pendidika
n tersebut diterima Kepala Sekolah SMAN 37 Ibu Dra. Nilwathy S., MM. Penyerahan itu juga disaksikan tiga wakil kepala sekolah dan puluhan guru yang sedang berkumpul di ruang itu.

Dalam kesempatan itu, Iman melaporkan bahwa alumni 37 angkatan 1991 telah membentuk ikatan alumni yang disebut Iluni 37-91. “InsyaAllah, Iluni dapat melanjutkan bantuan pendidikan ini di masa-masa yang akan datang,’ kata mantan aktivis pencinta alam SMAN 37 Trisaptapala ini.

Iman juga meminta doa dan dukungan moril dari guru-guru kepada Iluni. “Agar dharma bakti kami kepada sekolah dapat berlanjut dan berjalan dengan baik,” kata mantan Ketua OSIS SMAN 37 angkatan 1991 ini.

Ibu Dra. Nilwathy S menyambut baik harapan Iluni. Dia menyatakan sangat gembira kedatangan anak-anak didik yang kini sudah dewasa. “Kita bersyukur mereka masih ingat adik-adiknya. Mungkin karena mereka juga pernah merasakan melihat teman-temanya yang kurang beruntung,” kata Dra Nilwathy yang baru menduduki jabatanya pada 4 Agustus lalu.

Atas nama Bapak dan Ibu Guru, juga murid-murid di kelas 10, 11, dan 12, Nilwathy menyampaikan rasa terima kasih. Dia bersyukur dan mengucapkan selamat atas berdirinya Iluni. Diharapkan lembaga tersebut bisa menjadi jembatan antara alumni dan sekolah agar bisa membangun SMAN 37.

“Mudah-mudahan apa yang diberikan bapak dan ibu guru dahulu bermanfaat buat para alumni. Dan yang diberikan alumni bermanfaat buat adik-adik kalian yang masih bersekolah,“ pungkas Dra. Nilwathy.

Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bantuan pendidikan itu. Kepala Sekolah membubuhkan tandatangannya di atas plakat bantuan. Dilanjutkan dengan tour de 37 yang dipandu Wakil Kepala Sekolah bidang Sarpras dan Humas Dra. Frida Silitonga. Ibu Frida menunjukkan sarana dan prasarana sekolah yang telah berubah, juga yang masih ‘setia’ seperti 17 tahun lampau, ali
as ketinggalan jaman.

“Sekolah yang ak
an mengadakan seleksi penerima bantuan. Prioritasnya adalah siswa kelas 12 karena masa pendidikan mereka yang hampir selesai,” kata Iman kepada Kanal 37 usai acara tersebut di kantin mie ayam belakang sekolah.

Jumlah penerima, besaran dana dan rentang waktu penerimaan bantuan tersebut, kata Iman, juga disusun pihak sekolah. “Minggu depan sekolah akan memberikan laporan kepada Iluni,” pungkas pria parlente berkacamata ini.

Written by Gamal Ferdhi (20/8/2008)

Jumat, 15 Agustus 2008

D Day

Sabtu, 9 Agustus 2008,

08.15 WIB
Don Bejo SMS eyangnya meninggal. Waduh makin berat aje nih kerja panitia. Ude Suzan, Deden sekarang Bejo pula. Padahal ada satu mata acara yang mewajibkan kehadiran si Don.

11.00 WIB
Gue ke rumah Bocil, terus bareng Fifi ke Bugs Cafe. Kata Fifi, Lia nervous menghadapi Hari-H. “Bismillah aja Lia. Semua bakal lancar,” cerita Fifi persis ustadzah. Bocil terus ngedesek gue ngapalin More Then Words. Gue kena syndrome fatalis. “Biarin aje deh. Lagian Oion masih ngusahain Deden bisa dateng,” kata gue berharap.

13.00 WIB
Sampe di Bugs belom ada panitia lainnya. Padahal kita sepakat jam 13 buat ngedekor area registrasi. “Gimana sih, Hari-H masih pada ngaret aja,” Fifi ngedumel. Sambil nunggu panitia lainnya, gue, Bocil, Fifi dan keluarganya makan dulu di Kidzsport. Entah menunya yang gak cocok, atau emang lagi depresi kebanyakan masalah, abis makan gue malah diserang sugesti blackout. Kepala gue serasa melayang. Gue paksain buat ngedekor juga, sambil sebentar-bentar istirahat. Panitia lainnya tetep serius mempersiapkan acara. Kesian panitia emak-emak, Fifi, Lia, Bocil & Lizta ude pade cantik nyalon, keringetan lagi gara-gara ngedekor.

16.00 WIB
Giliran panitia bidang multimedia yang sibuk di dalem venue. Tapi Iman ngajak gue ke rumahnya di Pondok Labu. Ngambil bambu buat background red carpet. Sekalian gue mandi. Ditawarin makan, gue hajar juga buat ngelawan sugesti blackout yang gue duga gara-gara maag.

17.00 WIB
Badan ude agak seger. Balik lagi ke Bugs. Alumni ude menyesaki area registrasi. Mereka Ngisi buku tamu di tiga laptop, kemudian foto di red carpet dilanjutkan tanda tangan di atas canvas. Semua temen lama ngumpul di situ. Banyak yang bikin pangling. Beberapa guru juga susul menyusul dateng. Gila ye 17 taon kagak ketemu.

18.30 WIB
Muhtad membuka acara. Terus Noviyar pidato. Oion SMS mampir ke HP gue. Deden dipastikan gak bisa hadir, jadi gue harus gantiin Deden nyanyi bareng Oion. Nyessss.... Gue deg-degan lagi. Celingukan kanan-kiri, vokalis lainnya Suzan belum kelihatan batang hidungnya. Gue kontak dia, “Lo masih dandan ye? Kelamaan lo.” Dia bilang masih di jalan. Macet. Ahh... lega juga, berarti cuma Deden yang harus diganti.

Acara terus bergulir. Tapi nanjaknya terlalu cepet. Tau-tau tiga film dokumenter langsung diputer. Making the reuni, Napak Tilas dan terakhir In Memoriam. Muncul tiga host, Lia, Fifi dan Muhtad. Di situ Muhtad kagak bisa nahan emosi setelah nonton In Memoriam. Suaranya tercekat mau nangis, Lia gelagapan, untung ada Fifi yang wise. “Kita kan mau senang-senang di reuni,” kata Fifi nenangin Muhtad. Tapi bukan Muhtad doang yang hanyut, Cici yang berdiri di sebelah gue juga nangis.

Yudha yang jadi runner ngingetin giliran gue manggung. “Gila nih anak-anak, gue ditaro setelah hadirin terpukau nonton film dokumenter. Jadi antiklimaks nih,” pikir gue. Baru deh gue panik nyari lirik lagu More Than Words. Tanya sana-sini gak ada yang megang. Gue blagak pede naik panggung tanpa teks. Belagak yakin dengan daya simpen otak gue. Pan 17 taon yang lalu juga sering tereak-tereak menghayati tuh lagu bareng Deden di kantin. Oion udeh siap.

Sialan pas di atas panggung, bait pertama tuh lagu ilang dari kepala gue. Padahal waktu latian bareng gampang banget meluncurnya. Celingukan lagi. Hangat lampu spot menyiram muka gue. Berarti muka gue dingin nih. Pucet. Di seberang panggung kelihatan Cici yang memberikan aplaus. Ngeliat itu, pede gue yang anjlok bangkit lagi. Thanks Ci...

Gue terus terang ke hadirin, posisi gue sekarang gak sehebat Deden yang 17 taon lalu nyayiin lagu ini waktu perpisahan di Gedung Sekneg. “Ini tribute buat Deden yang lagi sakit,” kata gue sekenanya. Nyanyi dah. Sempet lupa di tengah-tengah. Untung Oion yang jadi gitaris dan Noviyar yang komat-kamit ikut nyanyi di seberang panggung membongkar lagi memori gue akan lyric lagu ini.

Rasanya panjaaaang banget tuh lagu. Ini lebih berat daripada orasi ilmiah atau pidato. Tapi akhirnya kelar juga. Alhamdulillah gue kagak disambitin penonton he..he...

Satu tugas pokok udeh selesai. Tinggal dua missi lagi yang harus dituntaskan. Suprise Ultah Boy dan meminta kemurahan hati Don Bejo untuk meluluskan Breaking News Kanal 37.

Surprise buat Boy dirancang gue ama Erfan Agus Setiawan aka Tubil waktu ceting Kamis malem. Rencana itu gue sounding ke Lia sebagai penanggungjawab acara untuk penyesuaian rundown. Tapi sayang Boy ada tugas ke Jogja. Kereta dan travel gak ada yang berangkat di atas jam 21.00 WIB. Alternatif terakhirnya, panitia musti dapet tiket penerbangan di Minggu pagi.

Gue minta Kopi ngontak bininya Boy waktu para guru naik ke atas panggung nyanyiin Hymne Guru. Boy keluar ruangan nerima telpon bininya. Rencana ‘busuk’ gue atur. Tapi karena acara Hymne Guru itu cuma improvisasi gue mengisi luang menunggu koneksi teleconf dengan Ita Yuliastuti di Aussie dan Yuki di Netherland, rencana surprise jadi batal. Panitia menganulir rencana ini. Muhtad sempat mendebat gue, skedul suprise Boy bukan di sini. Gue ngotot, tapi sadar juga karena emang gue belom koordinasi dengan dia. Waktu gue ngeloyor, sayup-sayup gue denger Muhtad ngomong, “sorry... sorry.” Gue juga minta maaf Tad, gak sempet bilang ke elo.

Cici dan Lyndon ude naik panggung memandu teleconf. Yudha bilang kita atur lagi jadwal surprise. Tubil dan gue pun merancang Plan C. Waktunya di akhir pemutaran Breaking News Kanal 37. Jadi gue harus melobby Bejo dulu meloloskan penayangan tuh news fiktif.

Justru paling berat melobby Bejo. Panitia paham, pagi harinya eyangnya tercinta wafat. Sempet ada lontaran kalo Bejo gak hadir, Breaking News gak usah ditayangin. Tubil, pembuat film ini, was-was juga Bejo gak bisa dateng.

Sore harinya gue nelpon Bejo. Dengan berbagai dalih gue minta kehadirannya. Bejo gak yakin. “Lo kan tau keluarga gue lagi berduka.” Gue pun memaklumi dan gak berharap banyak dia bisa hadir. Tapi sorenya, hati gue bunggah begitu ngeliat sosok Don Bejo Costello tampak diantara kerumunan alumni. Thanks Jo...

Iman, Yudha dan Tubil berkali-kali nanyain aprovalnya Bejo. Menjelang talkshow, gue ngelobby Bejo untuk yang terakhir kalinya. Gue ‘sandera’ Bejo dengan kelancaran acara. Kalo Bnews kagak bisa tampil, dampaknya surprise Ultah Boy juga kagak ada. Gue pun menjaminkan diri ke die. “Gue yang jadi moderator klarifikasinya, Jo.” Bejo emang berjiwa besar. Sensornya pun dibatalkan.

Talkshow yang dipandu gue, Indra ‘Doyok’ Birowo, Iman Arifiansyah Pulun, Ponco Hartawan dan Daisy Rakhmawati berjalan rada garing. Yudha nyamperin gue dari belakang screen seraya menggorok lehernya dengan tangan, sebagai kode durasi habis. Untung Supriyadi Sulhan aka Jojon yang gue undang ke depan nyebut Tubil dalam kasusnya ditangkep Polisi waktu tawuran.

Gotcha! Kisah Jojon soal Tubil gue jadiin bridge buat penayangan Breaking News Kanal 37. “Nih satu lagi kejailan Tubil yang disimpen selama 18 taon,” imbuh gue.

Film indie dengan tokoh utama Don Bejo Costello dan foto ‘mesranya’nya bersama NS, 18 taon lalu tayang. Isinya berita ‘skandal’ fiktif dewan pembina reuni itu. Di akhir penayangan film, Tubil, Boy dan Bejo gue dapuk maju ke depan buat menjelaskan sejarah film itu. Tampilnya tiga pelaku sejarah itu gue jeda dengan surprise Ultah Boy. “Boy ini dulu tokoh antagonis yang sekarang jadi protagonis,” kata gue. Semua nyanyi Selamat Ulang Tahun. Boy dapet selamat dari temen-temenya. Gue juga ngasih selamat seraya nyerahin tiket pesawatnya. Tapi die nendang gue dulu karena dikerjain.

Pfuiihhh... lega. Mission completed.

Abis dua acara itu, gue duduk-duduk aje diseberang stage menghayati suasana. Bu Frida yang mewakili Kepsek 37 memberi sambutan. Dilanjutin dengan pembagian souvenir buat guru. Dan foto bareng dengan mereka.

Ponco & the Konco’s nyanyiin Greatest Love of All yang didedikasikan buat almarhum Nuri. Rasa kehilangan Ponco mendongkrak pedenya. Disusul Lia, Suzan & Lyndon bawain You’ve Got a Friend. Begitu Lia & Lyndon turun, Oion nawarin Suzan nyanyi lagi. Kesempatan itu langsung disamber Suzan.

“Ho-oh aje die,” kata Tubil yang berdiri di belakang gue.

“Ude sakaw pengen nyanyi die,” gue nimpalin.

Lagu Memori hits nya Uthe dilantunkan Suzan. Konon, lagu ini dipersembahkan Suzan spesial buat Adi ‘Ayam’ Kuncoro, gitaris Depok yang berguru di Jerman. Waktu latihan, Suzan sempet nyanyi diiringi raungan gitar Ayam. Judulnya ampir mirip, Memories, tapi dari Within Temptation grup metal bergenre dutch symphonic. Sayang Adi Ayam, yang nama cetinganya DD Vernie, gak sempet menyaksikan asuhanya naik panggung. Kalo die nonton paling nangis bombay.

Di tengah lagu, bahu gue ditepuk orang. Ternyata Tubil bawa kembang plastik yang gak tau dicolong darimane. “Kasih nih... kasih ke Suzan,” kata Tubil seraya menyurungkan tuh kembang. Gue gelagapan. Tapi gue segera sadar, Tubil biasa pake tangan orang buat menyampaikan “maksud hatinya” ke orang lain. Akhirnya gue jadi messengernya Tubil. Lo musti terima kasih ke gue, Bil.

Dilanjutin games dan door prize. Nyesek dah jadi panitia, kagak berhak dapat tuh hadiah yang berlimpah. Terus, Bestdress yang disabet Indra Barata dan Kartika. Indra pake stelan item ala crewnya pembalap. Kartika... ehhmm... keterpukauan gue bikin susah mendeskripsikanya. Secara 17 taon yang lalu, die direndem di sawah bareng anak TSP lainya, sekarang ud jadi kinclong.

Disusul sambutan Iman Pulun mantan Ketua Osis. Iman organisatoris yang handal. Berkat Iman kerja panitia reuni jadi efektif. Wajar kalo dia sekarang menduduki Ketua Iluni 37-91. Film dokumenter diputer ulang buat yang telat. Deddy Bulbul yang brewokan mirip Taliban memimpin doa. Die malem itu pake topi Pakol khas Afghanistan. Terus beberapa panitia naik ke panggung nyanyiin anthem “Ingatlah Hari Ini” by Project Pop.

Dilanjutin acara bebas. Ada yang joget-joget, dansa-dansi tapi satu-persatu alumni juga ada yang ninggalin arena. Tapi ditahan Bejo, “kita foto bareng dulu.” Alumni yang masih tersisa layaknya kucing garong ditawarin ikan asin. Napsu. Padahal dari awal sampai acara berakhir, sesi foto-foto pake kamera masing-masing terus berlangsung. Posenya juga macem-macem. Mulai dari menendang sampe ‘mengundang’. Ada pose kharismatis juga erotis. Biarin deh die pade gila-gilaan di reuni, ntar juga sampe rumah harus masuk ke dunia nyata lagi.

Bugs beranjak sepi. Beberapa alumni termasuk gue nyanyi seenak udel di panggung. Oion dan Indra Doyok masih setia mengiringi. Sampe dua orang itu kecapean, tinggal MP3 doang yang diputer. Tapi masih ada juga yang ngebet nyanyi, termasuk gue. Akhirnya sisa pengunjung cuma ngobrol-ngobrol. Ada Dedy Bulbul ngajak pengajian rutin. Dj Inoow aka Thorell ngusulin buat pertemuan lanjutan alumni di bulan Puasa. “Adain sahur keliling bersama aje,” usul Thorell. Oion masih konsisten dengan usul arisan nge-band. Ada juga yang usul futsal bareng, tapi nungguin Hall Futsal nya Wawan di Buncit buka. Biar bisa gratisan.


D+ (plus)1

Minggu, 10 Agustus 2008

1.00 WIB
Sampe bener-bener sepi, sekitar jam 1.00 WIB dinihari panitia baru beranjak ninggalin Bugs. Ada kali empat kali gue salaman tapi gak jadi pulang. Muhtad masih nawarin nongkrong lagi. Kayaknya kita gak rela buat berpisah cieee.... Niat hati mo ngelanjutin nongkrong tapi body ude kagak sanggup.

1.30 WIB
Sampe juga di rumah. Seperti biasa pager belom dikunci. Lampu ruang tamu masih terang. Gue buka HP ada beberapa temen ngucapin terima kasih dan selamat. Juga usulan ketemuan alumni lagi. Alumni yang hadir seneng banget dan berharap besar kepada Iluni.
Ngebacanya jadi bahagia, tapi juga sedih. Karena gue sendiri pesimis bisa gak Iluni menjaga benang persahabatan kita.

Kayaknya gue terserang syndrome Kurt Cobain. Vocalis Nirvana ini hidup senang terus. Karena gak mau ketemu susah, akhirnya memampuskan diri taon 1994. Berkaca dari Kurt, gue pengen menghapus kebahagiaan hari ini. Biar besok, kagak kecewa kalo gak bisa ketemu lagi dengan temen-temen yang hebat.

Langsung semua SMS dan call log keluar-masuk gue set di ‘purge all’. Sederet dokumen sejarah reuni yang bersamayam selama empat bulan di HP gue pun amblas.

Gue tidur dengan gundah
.

D+ (plus) 3

Selasa, 12 Agustus 2008

Kecaman dan nasehat datang bertubi-tubi dari temen-temen yang gue cuekin telpon dan sms-nya. Gue bilang lagi recharge mental. Orang punya cara beragam untuk itu. Ada yang sholat, kontemplasi, bertapa atau menjauhi realitas sejenak.

Nah, gue baru melalui proses itu. Sekarang gue ude fresh lagi, dan ude kembali ke dunia nyata.

Kapan kita rapat pembentukan Iluni? He..he....

(Writes by Gamal Ferdhi, 11/8/2008)